Jawa Timur menyimpan kekayaan khazanah budaya yang tak habis untuk digali, salah satunya adalah Tradisi Sangiring yang tetap lestari di tengah masyarakat pesisir. Tradisi ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan sebuah ritual sakral yang menggabungkan nilai spiritualitas, sejarah, dan seni kuliner peninggalan para leluhur. Inti dari kegiatan ini adalah penyajian masakan khas yang disebut “Sanggring” atau juga dikenal dengan kolak ayam. Uniknya, berbeda dengan masakan pada umumnya, proses pengolahan hidangan dalam ritual ini seluruhnya harus dilakukan oleh kaum laki-laki. Hal ini menjadi simbol dedikasi dan penghormatan khusus terhadap sejarah penyebaran nilai-nilai kebajikan di masa lampau.
Akar sejarah dari Tradisi Sangiring diyakini bermula dari masa Sunan Dalem, putra dari Sunan Giri. Konon, saat beliau sedang menderita sakit, beliau mendapatkan petunjuk untuk mengonsumsi masakan yang terbuat dari sari ayam jago yang dicampur dengan berbagai rempah dan gula kelapa. Setelah mengonsumsi hidangan tersebut, kesehatan beliau berangsur pulih. Sebagai bentuk rasa syukur, masyarakat kemudian melestarikan pembuatan masakan ini menjadi sebuah upacara adat tahunan yang dilaksanakan setiap malam ke-25 bulan Ramadhan. Pemilihan waktu tersebut juga berkaitan dengan malam lailatul qadar, menambah dimensi religius yang sangat kental bagi warga yang melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan.
Proses pembuatan masakan dalam Tradisi Sangiring melibatkan gotong royong yang sangat masif. Puluhan hingga ratusan ayam jago disembelih dan diolah di dalam kuali-kuali besar secara terbuka. Para lelaki bertugas mulai dari menyembelih, membersihkan, hingga mengaduk masakan di atas tungku kayu bakar selama berjam-jam. Penggunaan kayu bakar dipercaya memberikan aroma asap yang khas dan menjaga cita rasa otentik yang tidak bisa digantikan oleh kompor gas modern. Rempah-rempah yang digunakan seperti jintan, bawang, dan gula jawa menciptakan harmoni rasa gurih dan manis yang melambangkan keseimbangan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Selain aspek kuliner, Tradisi Sangiring berfungsi sebagai media pemersatu masyarakat. Ribuan orang dari berbagai penjuru akan datang berkumpul untuk mendapatkan seporsi sanggring setelah waktu berbuka puasa. Di sana, tidak ada batasan status sosial; semua orang duduk bersila di selasar masjid atau balai desa untuk menikmati hidangan yang sama. Interaksi sosial ini memperkuat tali silaturahmi dan rasa persaudaraan antarwarga. Bagi masyarakat setempat, keberhasilan menyelenggarakan tradisi ini setiap tahun adalah sebuah kebanggaan kolektif yang menunjukkan bahwa identitas budaya mereka tetap kokoh meski arus modernisasi terus menggerus nilai-nilai tradisional di perkotaan.
