Di Klaten, Jawa Tengah, tradisi potong gigi atau metatah menjadi ritual penting. Upacara ini merupakan bagian dari Manusia Yadnya, salah satu dari lima jenis Yadnya dalam ajaran Hindu Dharma. Ini adalah penanda penting transisi menuju kedewasaan.
Ritual metatah bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk. Sifat-sifat seperti sad ripu (enam musuh dalam diri) diyakini berada di gigi. Melalui potong gigi, diharapkan seseorang menjadi lebih dewasa dan bijaksana.
Enam sifat buruk yang dimaksud adalah kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha (amarah), mada (mabuk/arogan), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati). Gigi diratakan sebagai simbol pengendalikan sifat-sifat ini.
Upacara ini biasanya dilakukan saat seorang remaja beranjak dewasa. Meskipun disebut “potong gigi”, prosesnya tidak benar-benar memotong. Melainkan meratakan enam gigi seri bagian atas menggunakan alat khusus secara simbolis.
Pelaksanaan metatah di Klaten, meskipun tidak sepopuler di Bali, tetap dijaga kelestariannya. Masyarakat Hindu di sana berupaya mempertahankan tradisi ini. Ini menunjukkan kuatnya akar budaya dan keyakinan spiritual mereka.
Sebelum ritual inti, ada serangkaian upacara pendahuluan. Persiapan sesaji, doa-doa, dan pemberkatan oleh pemangku (pemuka agama) menjadi bagian tak terpisahkan. Semua dilakukan untuk kesempurnaan ritual.
Pada hari H, individu yang akan dipotong giginya mengenakan pakaian adat. Mereka berbaring di tempat khusus, disaksikan keluarga dan kerabat. Suasana sakral dan khidmat menyelimuti seluruh prosesi.
Setelah proses perataan gigi selesai, ada ritual metapakan. Peserta diminta untuk “menginjak” telur, sebagai simbol kelahiran kembali. Mereka diharapkan menjadi pribadi yang baru dan lebih baik.
Meskipun secara fisik hanya sedikit perubahan pada gigi, makna spiritualnya sangat mendalam. Ritual ini mengukuhkan identitas Hindu seseorang. Mengajarkan nilai-nilai etika dan moral sejak dini.
Biaya pelaksanaan metatah bisa bervariasi, tergantung skala upacara. Namun, banyak keluarga berusaha keras untuk melaksanakannya. Ini dianggap sebagai kewajiban dan bentuk bakti kepada leluhur.
Keunikan tradisi potong gigi di Klaten ini menarik perhatian. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. Menunjukkan keberagaman praktik keagamaan yang patut dijaga.
Potong gigi di Klaten adalah bukti nyata kearifan lokal. Sebuah ritual Manusia Yadnya yang esensial dalam ajaran Hindu. Melalui tradisi ini, generasi baru diharapkan tumbuh menjadi pribadi mulia.
