Kota Gresik tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota santri yang memegang teguh tradisi keislaman, salah satunya adalah Pasar Bandeng Gresik. Tradisi tahunan ini biasanya digelar menjelang akhir bulan Ramadan, tepatnya pada malam 25 atau 27 (malam selawe). Keberadaannya bukan sekadar ajang jual beli ikan biasa, melainkan sebuah warisan budaya yang diinisiasi oleh Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo, sebagai upaya untuk menggerakkan roda ekonomi rakyat melalui hasil laut dan pertambakan yang melimpah di pesisir Gresik sejak abad ke-15.
Eksistensi Pasar Bandeng Gresik di tahun 2026 semakin meriah dengan sentuhan modernitas tanpa meninggalkan nilai aslinya. Ribuan warga dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke pusat kota Gresik untuk berburu bandeng kualitas terbaik yang ukurannya bisa mencapai satu meter lebih. Bandeng yang dijual di sini adalah hasil pilihan dari tambak-tambak tradisional yang memiliki rasa gurih khas dan tidak berbau tanah. Tradisi ini juga menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam menyambut hari kemenangan Idul Fitri, di mana hidangan bandeng menjadi menu utama saat berkumpul bersama keluarga besar.
Keunikan dari Pasar Bandeng Gresik adalah adanya kontes bandeng kawak (bandeng berukuran raksasa). Bandeng pemenang biasanya akan dilelang dengan harga yang sangat fantastis, dan hasil lelang tersebut seringkali digunakan untuk kegiatan sosial atau pembangunan fasilitas umum. Hal ini mencerminkan semangat berbagi dan kedermawanan yang diajarkan oleh para pemuka agama terdahulu. Selain bandeng, pasar dadakan ini juga menjajakan berbagai kuliner khas Gresik seperti nasi krawu, otak-otak bandeng, dan jajanan pasar tradisional yang jarang ditemukan di hari biasa, menciptakan pesta kuliner rakyat yang luar biasa.
Pemerintah Kabupaten Gresik terus berupaya melestarikan Pasar Bandeng Gresik sebagai bagian dari wisata religi dan budaya. Di era digital ini, promosi dilakukan secara luas melalui platform online untuk menarik minat wisatawan mancanegara. Penataan lokasi pasar kini lebih rapi dengan pembagian zona yang jelas antara area dagang, area panggung seni, dan area edukasi sejarah Wali Songo. Integrasi ini membuat pengunjung tidak hanya sekadar belanja, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai akar budaya yang membentuk karakter masyarakat Gresik yang religius dan ulet dalam berwirausaha.
